Urgensi Latihan Mengulang dalam Belajar Bahasa Arab

Oleh: Luqman, Lc., MA

Pendahuluan

Belajar bahasa Arab hakikatnya mudah, terlebih bagi mahasiswa yang mengambil spesialisasi ilmu-ilmu Islam. Allah menguatkan hal ini dalam firman-Nya yang artinya:

“Dan Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qu’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?”. (QS. Al-Qomar: 22)

Tetapi realitasnya bertolak belakang dengan idealnya, banyak mahasiswa yang mengeluh betapa sulitnya belajar bahasa Arab. Banyak yang memiliki keinginan untuk bahasa Arab, tapi mulainya dari mana?, cara dan metodenya seperti apa?, dst. Keluhan seperti ini biasanya dari mahasiswa jurusan non bahasa Arab yang ingin belajar bahasa Arab, atau bahkan dari mahasiswa jurusan bahasa Arab tetapi tidak memiliki dasar bahasa Arab yang memadai seperti di pesantren dan semisalnya.

Ada perbedaan mendasar dalam belajar bahasa Arab intensif dan non intensif. Belajar bahasa Arab intensif biasanya menjadikan semua kemampuan bahasa sebagai target, yaitu kemampuan mendengar, berbicara, memahami dan menulis. Karena mereka belajar secara intensif maka relatif tidak mendapatkan kesulitan, antara target kemampuan satu dengan yang lain saling mendukung, kemampuan mendengaar tidak bisa dipisahkan dengan kemampuan berbicara, kemampuan memahami juga tidak bisa dipisahkan dengan kemampuan menulis. Dengan demikian mereka dapat melampaui setip tahapan dengan mudah karena belajar bahasa Arab secara intensif dan terintegrasi.[1]

Berbeda dengan mahasiswa yang belajar bahasa Arab non intensif, ingin belajar bahasa Arab, tetapi hanya memiliki paruh waktu. Kendala ini banyak dialami oleh mahasiswa jurusan ilmu-ilmu Islam yang tidak memiki dasar kamampuan bahasa Arab yang cukup, sementara mereka dituntut untuk menguasai materi bahasa Arab dengan SKS yang tidak memadai. Biasanya kurikulum bahasa Arab untuk jurusan ini membatasi salah satu kemampuan bahasa Arab saja, misalnya kemampuan mendengar dan berbicara. Atau dikerucutkan pada kemampuan membaca dan memahami, karena target utama mereka belajar bahasa Arab adalah untuk membaca teks al-qur’an, hadits, dan kitab-kitab klasik.

Di samping itu mahasiswa yang belajar bahasa Arab non intensif memiliki banyak kesibukan yang tidak mendukung studi bahasa Arabnya, terlebih para mahasiswa yang kuliah sambil bekerja. Mayoritas mereka membuka materi bahasa Arab ketika ada jam kuliah bahasa Arab saja, bisa dikatakan mereka mengulang materi hanya sepekan sekali ketika jam kuliyah berlangsung.

Problematika inilah yang menjadi akar masalah mengapa para mahasiswa non intensif mengalami kesulitan belajar bahasa Arab. Salah satu solusinya adalah memahahami kembali metode muroja’ah dan mengaplikasikannya secara intensif dan kontinu. Belajar bahasa Arab non intensif, tatap muka hanya sepekan sekali tetapi tetap mengulang dan belajar intensif setiap hari secara mandiri. Dalam tulisan ini penulis akan membahas “Pentingnya latihan mengulang dalam belajar bahasa Arab”.

Prinsip dan Pengertian Latihan Mengulang

Repetitive atau pengulangan memang sebuah metode yang dikenal dalam dunia pembelajaran. Seorang guru kerap meminta murid- muridnya untuk mengulang kembali pelajaran yang telah diberikan ketika belajar kembali di rumah. Tujuannya agar pelajaran yang telah diterima melekat dalam ingatan. Setiap karyawan pabrik terutama pabrik-pabrik milik Jepang, senantiasa mengikuti apel pagi dengan mengulang core value perusahaan. Tujuannya tak lain untuk membuat karyawan menghayati nilai-nilai utama tersebut dan mengaplikasikannya.

Lebih jauh, Allah SWT pun mendidik kita dengan metode repetitive ini melalui shalat. Shalat yang wajib didirikan lima waktu sehari, setiap hari mengulang sholat lima waktu dengan ritme yang sama agar setiap muslim memiliki kebiasaan yang baik dan melekat dalam pribadinya sebagai bukti ketaatan kepada Penciptanya. Metode pengulangan ini juga Allah cerminkan dalam sebuah surat yang mendapatkan julukan “sab’un matsani” atau tujuh ayat yang diulang-ulang, sebagaimana firman Allah:

“Sungguh, Robbmu, Dialah Yang Maha Pencipta, Maha Mengetahui. Dan, sungguh, Kami telah memberikan kepadamu tujuh (ayat) yang (dibaca) berulang-ulang dan Al-Quran yang agung” (Qs. Al-Hijr 87).

Tujuh ayat yang dimaksud oleh ayat di atas, oleh sebagian ulama diartikan dengan surat Al-Fatihah yang dibaca seorang Muslim berulang-ulang sebanyak 17 kali dalam sehari. Hal ini tentu merupakan metode pembelajaran dari Allah SWT agar hamba-Nya memahami hakikat sejati kehidupan. Prinsip belajar yang menekankan perlunya pengulangan adalah teori psikologi daya. Menurut teori ini belajar adalah melatih daya-daya yang ada pada manusia yang terdiri atas daya mengamati, menanggap, mengingat, mengkhayal, merasakan, berfikir dan sebagainya.[2] Dengan mengadakan pengulangan maka daya-daya tersebut akan berkembang, seperti halnya pisau yang selalu diasah akan menjadi tajam, maka daya yang dilatih dengan pengadaan pengulangan-pengulangan akan sempurna.

Latihan mengulang atau metode drill menurut beberapa pakar memiliki pengertian sebagai berikut:

  1. Suatu teknik atau cara pengajaran di mana siswa melaksanakan kegiatan-kegiatan latihan, siswa memiliki ketangkasan atau keterampilan yang lebih tinggi dari apa yang telah dipelajari.[3]
  2. Suatu metode dalam pendidikan dan pengajaran dengan jalan melatih anak didik terhadap bahan pelajaran yang sudah diberikan.[4]
  3. Suatu kegiatan dalam melakukan hal yang sama secara berulang-ulang dan sungguh-sungguh dengan tujuan untuk memperkuat suatu asosiasi atau menyempurnakan suatu keterampilan supaya menjadi permanen.[5]

Dari beberapa pengertian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa latihan mengulang adalah suatu cara pembelajaran yang praktis untuk mendapatkan keterampilan maksimal dengan jalan yang singkat.  Dalam waktu yang tidak lama siswa dapat memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan. Siswa memperoleh pengetahuan praktis dan siap pakai, mahir dan lancar.

Dari segi pelaksanaannya mahasiswa terlebih dahulu telah dibekali dengan pengetahuan secara teori secukupnya. Kemudian dengan bimbingan dosen atau secara mandiri, peserta mempraktikkan, latihan dan mengulang sehingga menjadi mahir dan terampil. Dalam proses belajar, semakin sering materi pelajaran diulangi maka semakin ingat dan melekat pelajaran itu dalam diri seseorang. Mengulang besar pengaruhnya dalam belajar, karena dengan adanya pengulangan bahan yang belum begitu dikuasai serta mudah terlupakan akan tetap tertanam dalam otak seseorang.

Mengulang dapat dilakukan secara langsung setelah membaca, tetapi yang lebih penting adalah mempelajari kembali bahan pelajaran yang sudah dipelajari, misalnya dengan membuat ringkasan.

Dalam pembelajaran bahasa Arab latihan mengulang ini merupakan bagian pokok yang tidak bisa pisahkan. Seluruh metode pengajaran bahasa Arab pasti menyertakan latihan ini, hanya istilahnya saja yang berbeda; ada yang menyebutnya dengan tikror, tardid, i’adah, muroja’ah, dan seterusnya, semuanya menekankan pada latihan mengulang dengan latihan-latihan terprogram.

Tujuan dan Kelebihan Latihan Mengulang

Latihan mengulang ini memiliki tujuan yang sangat penting dalam setiap pembelajaran. Menurut Pasaribu latihan dan megulang ini bertujuan untuk memperoleh suatu ketangkasan, keterampilan tentang sesuatu yang dipelajari siswa dengan melakukannya secara praktis pengetahuan-pengetahuan yang dipelajari. Dan siap dipergunakan bila sewaktu-waktu diperlukan.[6]

Sedangkan menurut Roestiyah N.K dalam strategi belajar mengajar teknik latihan dan mengulang ini biasanya dipergunakan untuk tujuan agar siswa memiliki keterampilan motorik atau gerak, seperti menghafal kata-kata, menulis, mempergunakan alat atau membuat suatu benda, melaksanakan gerak dalam olah raga.[7]

Di samping itu, latihan ini juga memiliki kelebihan dibanding metode lain. Menurut Yusuf dan Syaifiil Anwar kelebihan metode latihan mengulang adalah menumbuhkan dan membiasakan siswa untuk mencintai belajar dengan cara mengulang secara mandiri.[8]

Sedangkan menurut Zuhairini, dkk kelebihan metode latihan dan mengulang adalah sebagai berikut:[9]

  1. Dalam waktu relatif singkat dan cepat dapat diperoleh penguasaan dan keterampilan yang diharapkan.
  2. Para siswa akan memiliki pengetahuan siap dan kuat.
  3. Akan menanamkan pada anak-anak kebiasaan belajar secara rutin, disiplin dan mandiri.

Dari pendapat kedua ahli pendidikan ini dapat disimpulkan bahwa latihan mengulang ini memiliki banyak keistimewaaan dan bertujuan untuk mengasah suatu ketrampilan dalam hal ini ketrampilan bahasa Arab dengan cara yang praktis dan singkat dengan hasil yang kuat, siap dan maksimal, serta menanamkan kebiasaan belajar yang rutin, disiplin dan mandiri.

Mengulang adalah Metode Para Ulama

Bahasa Arab memiliki hubungan erat dengan al-qur’an, hadits, dan ilmu-ilmu Islam, bahkan bagian yang tidak bisa dipisahkan. Menurut imam Ibnu Taimiyah belajar bahasa Arab hukumnya wajib, beliau mengatakan “Bahasa Arab itu termasuk bagian dari agama, sedangkan mempelajarinya adalah wajib, karena memahami Al-Quran dan As-Sunnah itu wajib. Tidaklah seseorang bisa memahami keduanya kecuali dengan bahasa Arab. Dan tidaklah kewajiban itu sempurna kecuali dengannya (mempalajari bahasa Arab), maka ia (mempelajari bahasa Arab) menjadi wajib. Mempelajari bahasa Arab, diantaranya ada yang fardhu ‘ain, dan adakalanya fardhu kifayah.”[10]

Belajar Al-qur’an, hadits dan bahasa Arab memiliki karakteristik yang sama-sama unik yaitu memerlukan banyak latihan mengulang. Contoh yang paling tepat adalah bagaimana para ulama terdahulu mempelajari ilmu-ilmu ini. Dalam kitab “Tahdzibu Kamal” disebutkan ketika meriwayatkan biografi Ahmad bin Al-Furat Abu Mas’ud Ar-Razi  “Ia mengulang setiap riwayat hadits lima ratus kali.” Kemudian suatu ketika ada seorang yang bertanya: “Saya sulit menghafal hadits dan cepat lupa.”, ia menjawab: “Adakah di antara kalian yang mengulang hadits lima ratus kali?”, mereka mengatakan: “Siapa yang mempu melakukan  demikian?”, ia menjawab: “Oleh karena itu kalian tidak hafal dengan baik.”[11]

Dalam biografi Abu Bakar Al-Abhari Al-Maliki rahimahullah ia berkata: “Saya membaca buku mukhtashor bin Abdul Hakam lima ratus kali”, kitab “Al-Asadiyah” tujuh puluh lima kali, kitab Muwaththa’ tujuh puluh kali juga, kitab “Al-Mabsuth” tiga puluh kali dan kitab Mukhtashor Al-Barqi tujuh puluh kali.”[12]

Al-Abbas Ad-Duri berkata: “saya mendengar Yahya bin Ma’in berkata: “Seandainya saya tidak menulis atau  mendengar (mengulang) hadits lima puluh kali maka tidak akan faham dan mengerti.”[13]

Mengenai biografi Abu Ishak Asy-Syairazi ia berkata: “Saya mengulang setiap “qiyas” seribu kali, jika saya anggap sudah cukup saya pindah pada qiyas yang lain dan aku mengulang begitu pula. Dan saya juga mengulang pelajaran sebanyak seribu kali, dan jika terdapat teks sya’ir saya menghafalnya.[14]

Dalam riwayat Al-Munadzam Ibnu Al-Jauzi ia mengulang pelajaran pada mulanya seratus kali.”[15]

Mengenai biografi Abu Bakar Ghalib bin Abdurrahman bin Athiyah ayahnya Ibnu Athiyah seorang ahli tafsir, bahwa ia mengulang kitab shahih Al-Bukhari sebanyak tujuh puluh kali. Al-Hasan bin Dzinnun An-Nisaiburi ia berkata: “Hafalan sebuah ilmu jika tidak diulang sebanyak tujuh puluh kali tidak kuat.”[16]

Dalam biografi Bakar bin Muhammad Abu Al-fadhl Al-Anshori ia berkata: “ia mengulang pada awal mulanya sebanyak empat ratus kali.”[17]

Inilah metode pembelajaran yang diwariskan oleh para ulama terdahulu dalam mengkaji ilmu. Mengulang adalah metode yang diutamakan dalam mempelajari ilmu syariat. Satu-satunya metode untuk menguatkan dan melengketkan hafalan.

Ibnu Al-Muhalhal juga menulis artikel mengenai metode mengulang ini, menurutnya mengulang adalah metode  yang ideal untuk mempelajari al-qur’an, hadits dan  ilmu-ilmu Islam. Metode ini dengan mengulang-ulang hafalan baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis dan idealnya hingga lima puluh kali, seratus bahkan hingga dua ratus kali.”[18]

Metode ini hasil dari pengalaman para ulama yang tidak diragukan kepakaran dan ilmunya. Cara dan metode ini juga bukan suatu perbuatan bid’ah, bukan pula cerita fiksi dari kisah etah berantah, tetapi riwayat realistis dan shahih dari biografi para ulama kita terdahulu, bahkan para ulama kemudian yang mengikuti jejak langkah mereka.

Penutup 

Bahasa Arab kini tidak lagi asing di kalangan masyarakat kita terlebih untuk para mahasiswa. Banyak metode yang bermunculan untuk mempermudah bagi yang ingin mempelajarinya. Namun berbagai kemudahan ini tidak berarti meninggalkan metode yang telah diwariskan para ulama, yaitu latihan dan mengulang.

Metode ini sudah dibahas oleh para pakar pendidikan, yaitu suatu cara pembelajaran yang praktis dengan cara melakukan hal yang sama secara berulang-ulang dan sungguh-sungguh dengan bimbingan dosen atau secara mandiri, bertujuan untuk memperkuat suatu asosiasi atau menyempurnakan suatu keterampilan secara maksimal dengan jalan yang singkat.

Metode ini memiliki banyak kelebihan dibanding dengan metode lain, di antaranya adalah dalam waktu relatif singkat dan cepat dapat diperoleh penguasaan dan keterampilan yang diharapkan, para siswa akan memiliki pengetahuan siap dan kuat, dan yang lebih penting adalah menanamkan peserta didik kebiasaan belajar secara rutin, disiplin dan mandiri.

Selain para pakar pendidikan yang mengakui akan kelebihan metode ini ternyata para ulama terdahulu juga telah membuktikan dan mencontohkan secara konkrit detail dan tata laksana metode ini. Tidak aneh jika mereka adalah generasi yang paling menguasai ilmu-ilmu islam karena mereka melakukan hal yang sulit untuk diterapkan. Yaitu mengulang materi puluhan kali, ratusan bahkan ribuan, seperti yang dilakukan oleh syaikh Abu Ishak Asy-Syairazi mengulang materi hingga seribu kali, subhanallah.

Metode latihan dan mengulang ini sangat sesuai untuk pembelajaran bahasa Arab karena memiliki karakeristik yang sama denagan Al-qur’an, hadits dan ilmu-ilmu islam lainnya dan merupakan sumber yang tidak bisa ditinggalkan ketika mempelajarinya.

Selain itu, metode ini juga sesuai untuk setiap yang ingin mempelajari bahasa Arab namun memiliki keterbatasan waktu untuk bertemu dengan guru. Para profesional yang memiliki sedikit waktu, para mahasiswa islam selain fakultas bahasa yang memiliki sedikit sks, bahkan kaum muslimin pada umumnya dengan syarat dapat mengikuti program dengan baik dan komitmen untuk mengulang secara mandiri.

 

Daftar Pustaka

Abu Yusuf Al Mazy, Tahdzibul kamal, Beirut: Muassasah Risalah, 1980.

Ibnu Al-Jauzi, Al-Muntadzim fitarikh almuluk wal umam, Mesir: Darul kutub, 1995.

Ibnu Asakir, Tarikh Damaskus, Beirut: Darulfikr, 1990.

Ibnu Hajar Al-Asqalani, Tahdzubu tahdzib, Darul fikr, 1984.

Ibnu Katsir, Albidayah wanihayah, Beirut:  Dar maktabah Alhilal, 2007.

Ibnu Muhallal, Mengulang metode warisan ulama, Artikel , t.t.

Ibnu Taghri Bardi, An-nujum azzahirah fi muluk misr wal qahirah, Kairo: Muassasah almishriyah alammah, 1971.

Ibnu Taghri Bardi, Aazzahirah fi muluk misr wal qahirah, Mesir: Muassasah Misriyah, 1971.

Ibnu Taimiyah, Iqtidho shiratol mustaqim, Kairo: Makatabah Sunnah, 1971.

Pasaribu dan B. Simanjuntak, Didaktik dan Metodik, Bandung: Tarsito, 1986.

Qadhi Iyadh, Tartibul madarik wataqribul masalik, Maktabah syamilah, 1986.

Roestiyah NK., Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Bina Aksara, 1985.

Mahfud Sholahuddin, Metode Pengajaran Agama, Surabaya: Bina Ilmu, 1987.

Syamsuddin Adzdzahabi, Siyara’lam al-nubala Darul Furqan, 2001.

Sunaryo, Psikologi untuk keperawatan, Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2002.

Tim Penyusun, Al-Arabiyah linnasyi’in, Riyadh: Alimam, 2002.

Tim Penyusun, Kumpulan materi pendidikan dan pelatihan program termjemah al-qur’an sistem 40 jam, Jakarta: Istiqlal, t.t.

Tim penyusun, Ta’limul lughah al-Arabiyah, Jakarta: STIDDI Al-hikmah, t.t.

Tayar Yusuf dan Syaiful Anwar, Metode Pengajaran Agama dan Bahasa Arab, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1997.

Zuhairini dkk, Metode Khusus Pendidikan Agama, Surabaya: Usaha Nasional, 1983.

 

Footnote

[1] Tim Penyusun, Al-arabiyah linnasyi’in, (Riyadh: 1983), hal. vi.

[2] Sunaryo, Psikologi untuk keperawatan, (Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC,2002), hal.166

[3] Roestiyah NK, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Bina Aksara, 1985), hal.125.

[4] Zuhairini dkk., Metode Khusus Pendidikan Agama, (Surabaya: Usaha Nasional, 1983), hal. 106.

[5] Mahfud Sholahuddin, Metode Pengajaran Agama, (Surabaya: Bina Ilmu, 1987), hal.100.

[6] Pasaribu dan B. Simanjuntak, Didaktik dan Metodik, (Bandung: Tarsito, 1986), hal.122.

[7] Roestiyah, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Bina Aksara, 1985), hal.125).

[8] Tayar Yusuf dan Syaiful Anwar, Metode Pengajaran Agama dan Bahasa Arab, (Jakarta: Raja, 1997), hal.66.

[9] Zuhairini dkk., Metode Khusus Pendidikan Agama, (Surabaya: Usaha Nasional, 1983) hal. 107.

[10] Ibnu Taimiyah,  Iqtidho shiratol mustaqim, (Kairo: Makatabah Sunnah, 1369), hal.207)

[11] Abu Yusuf Al Mazy, Tahdzibul kamal, (Beirut: Muassasah Risalah, 1980), vol.1, hal. 424.

[12] Qadhi Iyadh, Tartibul madarik wataqribul masalik, vol.1, hal.427.

[13] Ibnu Asakir, Tarikh Damaskus, (Beirut: Darulfikr, 1990), vol.14,  hal.65.

[14] Syamsuddin Adzdzahabi. Siyara’lam al-nubala Darul Furqan, 2001, vol.18, hal.458.

[15] Ibnu Al-Jauzi, Al-Muntadzim fitarikh almuluk wal umam, (Mesir: Darul kutub, 1995), vol.4, hal.489.

[16] Ibnu Taghri Bardi, An-nujum azzahirah fi muluk misr wal qahirah, (Kairo: Muassasah almishriyah,1971), vol.2, hal.82.

[17] Ibnu Katsir, Albidayah wanihayah, (Beirut:  Dar maktabah Alhilal, 2007), vol.12, hal.227.

[18] Artikel Ibnu Muhallal, Mengulang metode warisan ulama.

Leave A Comment